logo pertamina
BAZMA Pertamina | Ayo zakat di BAZMA Pertamina Pusat
Latest Post

Laporan Aktifitas Per September 2013

Written By Sukendar SEI on Jumat, 11 Oktober 2013 | 01.06

laporan september

Mengapa dan Bagaimana

Written By Sukendar SEI on Minggu, 01 September 2013 | 18.03

inspirasiBanyak orang bertanya dengan pertanyaan mengapa. Contohnya, mengapa doa saya tidak dikabulkan? Mengapa atasan di kantor selalu mencela saya? Mengapa belum ada yang melamar saya? Mengapa saya selalu menjadi korban? Mengapa istri saya semakin tua semakin cuek kepada saya?
Berbagai pertanyaan “mengapa” seperti tersebut di atas berpotensi membuat Anda semakin lemah, meningkatkan penyakit hati dan bisa menjadikan Anda manusia yang kurang bersyukur. Selain itu, mereka yang terlalu banyak bertanya “mengapa” dalam konteks yang tidak tepat akan cenderung menjadi trouble maker dibandingkan menjadi problem solver.
Berlatihlah dari banyak mengajukan pertanyaan mengapa menjadi bagaimana. Contohnya, bagaimana agar doa saya dikabulkan? Bagaimana caranya agar atasan di kantor percaya kepada saya? Bagaimana agar banyak orang yang datang melamar saya? Bagaimana caranya agar istri semakin mesra dan sayang kepada saya?
Mengubah pertanyaan mengapa menjadi bagaimana akan membuat Anda menjadi orang yang lebih banyak memikirkan solusi daripada masalah. Anda juga akan menemukan banyak alternatif positif yang ada di sekitar kehidupan Anda. Pertanyaan “bagaimana” akan membuat otak Anda aktif bekerja dan itu sangat berguna bagi kehidupan Anda.
Cobalah duduk sejenak, renungkan hal-hal yang selama ini Anda bertanya “mengapa” dan segeralah ubah menjadi “bagaimana”. Bila sebelumnya Anda bertanya mengapa order saya sepi? sekarang ubahlah menjadi bagaimana agar order saya ramai? Dan, segera temukan jawabannya.
@JamilAzzaini
Inspirator SuksesMulia

Nasibku Mengapa Beda?

Written By Sukendar SEI on Senin, 29 April 2013 | 18.38

nasibBanyak orang yang lahir ditahun yang sama, sekolah atau kuliah di jurusan yang sama, namun di saat tua kehidupannya sangat berbeda. Ada yang hidupnya semakin bahagia namun ada juga yang hampa bahkan merepotkan banyak orang. Bagaimana agar kita tidak termasuk orang yang semakin tua justru semakin menderita?

Salah satunya adalah dengan cara “kerjakanlah yang Anda cintai atau cintailah apa yang Anda kerjakan”. Apabila Anda kerja asal kerja tapi tak ada rasa cinta di dalamnya maka Anda berpeluang besar menyesal di masa tua. Mungkin saat ini Anda bekerja di perusahaan ternama dengan gaji di atas rata-rata, namun bila tak ada rasa cinta, itu adalah tipuan yang menjerumuskan.

Mengapa tak ada rasa cinta di pekerjaan yang Anda tekuni padahal Anda bukanlah pemalas? Sebab utamanya adalah karena Anda bekerja tidak menggunakan “kekuatan atau kesaktian” Anda. Memang Anda pergi bekerja, namun pikiran dan hati Anda tidak ikut bekerja. Hasilnya, Anda menjadi orang yang hidupnya tidak selaras, mudah galau dan cepat kehilangan semangat.

Segeralah temukan “kekuatan atau kesaktian” Anda. Sesuatu yang “gue banget” dan bekerjalah dengan itu. Saat bekerja dengan “kekuatan atau kesaktian” Anda akan merasa tidak pernah bekerja tetapi menjalankan hobi. Hidup menjadi nikmat, penuh gairah dan semangat. Peluang berprestasi dan menghasilkan karya-karya besar terbuka lebar.

Sebagai manusia, tugas kita melakukan yang terbaik dengan cara terbaik serta menggunkan kekuatan terbaik. Saya sangat yakin Allah SWT pasti juga akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita.

Rancanglah nasib Anda dimasa yang akan datang dengan cara menemukan “kekuatan atau kesaktian” Anda dari sekarang. Jangan tunda- tunda, hidup hanya sebentar. Hidup bukan untuk mengadu nasib. Hidup itu berusaha merancang nasib yang kita impikan.

Salam SuksesMulia!

Penulis : Jamil Azzaini "Inspirator SuksesMulia"


Ujian Itu Biasa

Written By Sukendar SEI on Minggu, 28 April 2013 | 18.52

inspirasiUjian itu hal yang biasa. Semua orang hebat pasti pernah mendapat ujian. Hanya para pecundang yang takut menghadapi ujian. Perlakukanlah ujian sebagai sesuatu yang biasa bukan menjadi monster yang menakutkan.

Apabila kita ciptakan ketakutan terhadap ujian maka boleh jadi akan muncul kecurangan dan cara-cara tak terpuji agar lulus ujian. Seandainya nilai ujian Anda bagus tetapi diperoleh dengan curang pada hakikatnya Anda belum lulus. Mungkin Anda lulus dalam ujian tersebut tetapi berpeluang tidak lulus dalam ujian kehidupan yang lain.

Bagi yang sekarang sedang menjalani Ujian Nasional (UN) santai saja, jalani dengan tenang, mintalah restu kepada orang tua dan berdoalah kepada Allah swt. Apabila semua sudah dipersiapkan dengan baik ternyata tidak lulus, itulah hal terbaik yang Allah berikan. Tidak lulus bukanlah aib.

Tentu sebagian besar kita tahu Thomas Alfa Edison, ia bukan hanya tidak lulus tetapi dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh. Tetapi, apakah setelah itu hidupnya terlunta-lunta? Tanpa peran beliau menemukan bohlam lampu listrik mungkin hingga kini dunia tetap gulita di malam hari. Dia juga menemukan ribuan temuan dari hasil penelitiannya yang berkontribusi besar bagi perkembangan dunia dan umat manusia.

Steve Jobs dan Bill Gates juga dropped out (DO) dari kampusnya. Tetapi siapa yang tidak kenal mereka? Hanya orang-orang yang kurang gaul yang tidak tahu kiprahnya.

Saat SD saya juga pernah tidak naik kelas dan menjadi bahan olok-olokan teman-teman saya. Dunia terus berputar, yang dihina belum tentu hidupnya menjadi terhina.

So, hadapi ujian sekolah dan ujian kehidupan biasa saja. Menghindar dan takut menghadapi ujian akan menjauhkan Anda dari kesuksesan. Maka saat ujian datang, hadapi dan selesaikanlah. Sementara bagi Anda yang sedang tidak ujian, dukung dan tenangkanlah mereka yang sedang ujian bukan justru menciptakan horor dan ketakutan.

Salam SuksesMulia!

Penulis : Jamil Azzaini "Inspirator SuksesMulia"

Hartamu Menyelamatkanmu?

Written By Sukendar SEI on Jumat, 12 April 2013 | 01.55


hartaSalah satu kegemaran saya adalah menerima tamu di rumah. Setelah bertamu ke rumah, ada yang semakin dekat dengan saya ada juga yang menjauh. Kok bisa? Saya baru tahu beberapa hari yang lalu melalui seorang teman saya, mereka yang menjauh ternyata karena kecewa. Kecewa karena rumah, mobil dan perabotan yang saya miliki tidak semewah yang mereka bayangkan.
Antara sedih dan bersyukur saya mendengar penjelasan sahabat saya itu. Sedih karena ternyata ada orang yang menjadikan dekat dan jauh seseorang hanya karena benda-benda materi yang dimilikinya. Bersyukur karena saya menjadi tahu, mana teman sejati dan mana teman yang oportunis.
Saya sangat menyadari bahwa kelak pertanyaan Allah SWT tentang berbagai karunia yang telah diberikan di dunia hanya satu pertanyaan. Namun khusus untuk harta ternyata Allah SWT menanyakan dua pertanyaan. Rasulullah SAW bersabda, “Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?” (HR. Ahmad dan At­ Tabrani)
Dalam urusan harta, bukan hanya cara memperolehnya yang ditanya oleh-Nya tetapi bagaimana harta itu digunakan juga akan ditanya oleh Sang Pencipta. Maka pastikanlah harta yang kita miliki diperoleh dengan cara yang halal dan pastikan pula dibelanjakan dengan cara halal dan banyak memberi manfaat serta menyelamatkan untuk kehidupan akherat.
Kelak kita tidak akan ditanya, “Mengapa mobil dan rumah kamu tidak mewah padahal Aku (Allah) sudah memberikan rezeki berlimpah?” Tetapi kita akan ditanya, “Mengapa kau bisa tidur nyenyak sementara tetanggamu ada yang kelaparan?” Hidup di dunia ini tidaklah lama. Sementara hidup di akhirat itu bukan hanya seribu tahun, sejuta tahun, semilyar tahun, atau setrilyun tahun, tetapi hidup di akhirat itu selama-lamanya, abadi. Orang-orang cerdas pasti akan memilih kehidupan yang abadi.
Sadarilah, walau kita menjadi orang terkaya di dunia dan kemudian seluruh hartanya kita sumbangkan untuk kepentingan banyak orang, rasanya belum pantas ditukar dengan kehidupan abadi dan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya. Maka kejarlah kehidupan abadimu tanpa melupakan kehidupan duniamu. Harta yang menyelamatkan adalah harta yang kita sedekahkah bukan yang disimpan apalagi dipamerkan. Semakin sukses hidup kita harus pula semakin mulia (memberi manfaat) kehidupan kita.
Ya Allah, jauhkan kami dari keangkuhan, kesombongan dan keserakahan duniawi. Jadikan segala karunia-Mu sebagai jalan untuk mempermudah bertemu dengan-Mu di dalam kehidupan abadi yang telah Engkau siapkan. Mungkinkah aku berada di tempat mulia itu?
Salam SuksesMulia!
Penulis : Jamil Azzaini, Inspirator "SuksesMulia"

Warung Binaan Bazma Kembali Bergeliat

Written By Sukendar SEI on Selasa, 09 April 2013 | 18.23


ekonomiPagi itu masih gelap, sekitar pukul 05.00. Sosok perempuan berusia 75 tahun mulai membuka warung klontong, yang berada tepat di depan rumahnya. Perempuan bernama Sawiyah itu berjualan untuk memenuhi kebutuhannya.

Warung Sawiyah cukup ramai. Warga Kampung Caman,Bekasi biasa memanfaatkan warung tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan makanan sampai kebutuhan lainnya.

Keramaian itu berbeda pandang dengan kondisi warung sekitar lima bulan lalu. Ketika itu, warung yang menjadi penopang keluarga ini harus tutup dikarenakan kehabisan modal. 

Ketiadaan modal jadi alasan utama. Modal yang selama ini digunakan untuk mengerakan usaha, habis digunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Selama dua bulan warung tutup.

Kondisi itu menambah miris kehidupan Sawiyah, tentu. Anak perempuannya sudah meninggal tiga tahun lalu, meninggalkan lima orang cucu. Otomatis Sawiyah menjadi tulang punggung untuk kehidupan kelima cucunya.

Terinspirasi dari semangat Sawiyah, Awal Februari 2013, Bazma memberikan  bantuan modal sebesar tiga juta rupiah supaya warung kelontong itu kembali hidup. Dibantu cucu pertamanya yang laki-laki, Sawiyah kembali membuka warungnya dengan bantuan Bazma ini. 

Dua bulan berjalan, warung ini menunjukan kemajuan. Selain ramai pembeli, dagangan yang dijajakan juga bertambah. Memasuki April, omzet penjualan  mancapai Rp 300 rb/hari.

"Terima Kasih Pak Nur, sampaikan salam dan doa kami untuk Bazma Pertamina yang sudah membantu, semoga berkah, warung saya laris lagi, bisa buat makan cucu saya," kata Sawiyah saat dijumpai tim Bazma.

Kepala Divisi Program Bazma, Komarudin mengatakan, bantuan tersebut merupakan komitmen Bazma dalam membantu masyarakat. Khusunya melalui program ekonomi. 

"Bazma tidak hanya program karitas yang dijalankan, karena kami ingin bantuan dari Bazma ini bisa berkelanjutan dan produktif. Geliatnya warung Bu Sawiyah menjadi bukti bahwa dana zakat dari insan Pertamina sangat dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat. tutur Nur Komarudin. (s/w)
 

Kita Kelompok yang Mana?

Written By Sukendar SEI on Minggu, 31 Maret 2013 | 20.18

kelompok
Menurut Khalil bin Ahmad, ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang memiliki ilmu dan ia mengetahui dirinya memiliki ilmu, lalu mengamalkannya. Terhadap kelompok yang pertama ini segera contoh dan bergurulah. Jangan ditunda-tunda. Perbanyak waktu bersama mereka agar Anda mendapatkan “cipratan” ilmunya.
Kedua, orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, hingga dirinya tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya itu. Berhati-hatilah bertemu dengan orang-orang seperti ini, boleh jadi tutur katanya indah dan terlihat cerdas namun ia enggan beramal sholeh.
Kelompok kedua dua ini pandai berdiskusi namun miskin dalam aksi. Senang mengkritisi aksi orang lain padahal reputasi mereka di dunia aksi sangatlah tak terdeteksi. Atau dengan kata lain, kelompok kedua ini adalah kelompok wacana. Berhati-hatilah, Anda bisa mendapat pengaruh buruk dari kelompok kedua ini.
Ketiga, orang yang tidak memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang ini sadar dengan keterbatasannya sehingga ia ingin memiliki ilmu. Terhadap orang seperti ini, selayaknya diberikan bimbingan yang dibutuhkan. Mereka haus ilmu, mereka ingin bertumbuh maka berikanlah ilmu terbaik kepada mereka.
Keempat, orang yang tidak memiliki ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang-orang semacam ini biasanya sombong dan angkuh. Ia sebenarnya bodoh namun tidak sadar bahwa dirinya bodoh. Sulit menerima nasehat karena sudah merasa hebat. Menjauhlah dari kelompok ini karena tidak banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan.
Bila Anda punya ilmu, jadilah seperti kelompok pertama, Anda mengamalkannya dan menyebarluaskannya. Sebaliknya, apabila Anda merasa belum punya banyak ilmu jadilah seperti kelompok ketiga. Terus belajar kepada orang-orang seperti kelompok pertama.
Berhentilah sejenak, renungkanlah. Kira-kira Anda termasuk kelompok yang mana? Semoga tidak termasuk kelompok yang kedua atau keempat.
Salam SuksesMulia!
Penulis : Jamil Azzaini "Inspirator SuksesMulia"
 
Design by : Darmanto.com
Copyright © 2011. BAZMA Pertamina - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Powered by Blogger